Pagi cerah. Burung-burung riuh rendah berkicau di pepohonan. Hari ini aku sudah bersiap diri. Ya, bersiap diri untuk melangkahkan kaki. Bak anak burung yang akan meninggalkan sarang induknya. Begitulah aku di pagi itu. Dengan segenap keberanian yang kutumpahkan aku akan pergi meninggalkan kenyamanan, kehangatan dan keceriaan rumah ini. Rumah tempat aku bertumbuh. Rumah tempat aku dibesarkan dengan segenap cinta dan kasih sayang dari Abah dan Emak.
“Abah, Emak, pagi ini Tegar pamit. Pamit untuk memulai perjalanan. Pamit untuk bergegas menggapai mimpi. Pamit untuk menyusuri penghidupan sendiri.” Aku mengucapkan kata-kata itu dengan pelan. Abah dan Emak nampaknya merasakan kesedihan yang ada di hati aku.
“Berangkatlah Nak. Tak perlu engkau bersedih meninggalkan kami. Tegarlah engkau seperti namamu. Kami akan bersedih bila engkau tetap dalam lingkungan kami, orang tua engkau.”
“Tegar mohon doa dan restu dari Abah dan Emak.”
“Itu tidak usah engkau pinta Nak. Abah dan Emak selalu mendoakan engkau. Moga Gusti Alloh selalu melimpahkan kemudahan di sepanjang perjalanan engkau meraih cita-cita yang telah engkau tumbuhkan….”
Ada air mata. Air mata yang tak terbendung di pipi kami bertiga. Tapi sungguh itu bukan air mata duka. Itu air mata yang penuh doa. Doa yang sama-sama dipanjatkan ke hadiratNya.
Maka, kutinggalkan Abah dan Emak. Kutinggalkan rumah ini, kutinggalkan dusun ini. Aku memulai perjalananku menuju impian dan cita-citaku…
Read More…